Subuh ini, Mesjid Nurul ‘Ilmi kedatangan lagi tamu nasional. Kali ini dari Departemen Pendidikan Nasional, Drs Masyuri. Beliau adalah Kabiro Kepegawaian Diknas. Bersama Bapak Rektor dan Pembantu Rektor II, bapak masyuri datang lebih awal ke mesjid ketimbang mahasiswa asrama. Beliau mengatakan, “saya berdiri di shaf terdepan bukan karena jabatan saya tetapi karena saya datang lebih awal. Kalau sekiranya saya datang terlambat, maka tidak ada hak bagi saya untuk meminta tempat di shaf terdepan, begitu juga dengan bapak rektor”.

Setelah mengimami shalat subuh, Drs Masyuri memberikan taujih untuk seluruh jamah shalat subuh. Diawalinya taujih itu dengan sebuah episode bersejarah dalam sejarah Kekhalifahan Umar Bin Khatab.

Drs. Masyuri bercerita, pernah suatu kali Umar membawa kayu bakar dengan tangan-tangannya sendiri, dan mengantarkannya ke rumah penduduk. Para sahabat yang melihat hal itu kemudian berkata, “ya, amirul mu’minin kenapa engkau mau saja mengangkat kayu itu?”. Umar kemudian menjawab, “saya hendak menghancurkan kesombongan yang ada di diri ini”. Ternyata kemaren sorenya, Umar menerima beberapa utusan dari negara tetangga, dan ketika itu terbersit di hatinya, bahwa ia lebih baik karena ia seorang kalifah sementara yang lain hanya utusan saja.. Umar faham itu, ini adalah kesombongan, maka ia tebus itu semua dengan melakukan pekerjaan yang akan merontokan kesombongannya. Karena sesungguhnya semua orang itu sama di hadapan Allah.

Di dalam taujihnya Drs, Masyuri juga menyebutkan, bahwa ada 2 pilar keunggulan Islam. Yaitu etika atau moral dan kesetaraan. Esensi tuntunan etika atau moral di dalam Islam adalah kejujuran dan keadilan. Kedua pilar itu tumbuh tidak hanya pada dimensi duniawi tetapi juga pada dimensi ukhrawi. Ada kalkulasi langit di setiap amal yang dilakukan tidak hanya sebatas aspek manusiawi saja, tidak terbatas hanya pada kalkulasi social. Dan ini yang membuatnya berbeda dari umat agama lain.

Di akhir taujih, sang ustadz, Drs Masyuri bilang, “JANGAN GOLPUT”

Haa??

Iklan