artikel


adrian-asrama-mahasiswa

asrama mahasiswa unand

Orang Indonesia ini gagal karena sebagian besar kena penyakit kulit

Penggal kalimat ini disampaikan oleh Bapak Novesar, Pembantu Rektor I Universitas Andalas ketika beliau mencari penceramah sehabis shalat subuh berjamaah di mesjid Nurul Ilmi bersama mahasiswa asrama. Dan semua yang mendengar menjadi tercengang, bingung bercampur kerut jidat berlapis. Apa hubungannya penyakit kulit dan keberhasilan seseorang. Sejak kapan ada penyakit kulit yang bisa menghentikan gerak aktivitas seseorang untuk mencapai cita-citanya. Karena ada banyak orang diluar sana yang bisa sukses meskipun mereka di dera penyakit yang sangat berat, lumpuh, buta, tuli, ataupun kanker mematikan. Jelas itu semua lebih berat ketimbang hanya sekedar penyakit kulit. Tetapi dengan tegas Bapak PR I mengatakan bahwa penyakit kulit ini lah yang membuat banyak orang menjadi gagal. (lebih…)


“Sumber dari segala macam bencana dan kutukan terhadap umat manusia adalah kebodohan dan ketidakmengertian. Sumber dari tercipnayna peradaban tinggi adalah masyarakat yang menghormati pendidikan”

Setiap Manusia mempunyai potensi dan kesempatan yang sama untuk bahagia dalam hidupnya. Walau ukuran kebahagiaan manusia tidak bisa disama ratakan, namun secara umum bisa dilihat dari kesuksesan yang diraih selama hidupnya. Kesuksesan tidak bisa didapat begitu saja, butuh perjuangan dan usaha keras. Salah satu yang harus dilakukan untuk mendapat kesuksesan ter – sebut adalah dengan belajar. Belajar, merupakan tugas, tanggung jawab dan panggilan pertama bagi tiap manusia. belajar, selain membuat pengetahuan yang kita miliki bertambah, kesempatan terbukanya pintu kesuksesan pun semakin lebar.

Lantas bagaimana caranya agar kesuksesan yang ingin dicapai dengan cara belajar tersebut, dapat mudah kita raih ?? Ada beberapa hal yang patut kita ingat, ketika kita sedang belajar untuk menuju kesuksesan yaitu? : (lebih…)


Oleh Shofwan Al-Banna Choiruzzad

Surabaya, 1945
Langit gelap. Bukan oleh awan yang hendak menurunkan hujan. Angkasa dipenuhi pesawat sekutu yang bergemuruh. Di dalamnya, para serdadu masih menyisakan keangkuhan. Mereka baru saja menghancurkan pasukan Jepang di Front Pasifik. Dari langit, mereka menebar ancaman: “menyerah, atau hancur”.
Beberapa pekan sebelumnya, pengibaran bendera Belanda memicu amarah para perindu kemerdekaan. Seorang pejuang mencabik warna biru dari bendera Belanda di Tunjungan, menggemakan pesan bahwa negeri ini tak rela kembali dijajah. Tentara sekutu menjawab dengan salakan senapan, bersembunyi di balik alasan “memulihkan perdamaian dan ketertiban”. Jiwa-jiwa merdeka itu berontak. Brigadier Jenderal Mallaby, pimpinan tentara Inggris di Surabaya, terbunuh. Sekutu murka.
Rakyat gelisah. Surabaya telah lama dikenal sebagai salah satu pusat perlawanan. Laskar-laskar dari berbagai pesantren dan daerah banyak yang menjadikan kota ini sebagai markas. Di kota ini pulalah, Cokroaminoto dan Soekarno muda mendiskusikan cita-cita kemerdekaan. (lebih…)